Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Friday, May 4, 2018

Kegiatan mitra BPS Kabupaten Aceh Utara Kec. Sawang Tahun 2018

Ada beberapa kegiatan BPS Kabupaten Aceh Utara yang sedang berlansung di Kec. Sawang.  Diantaranya :
Sumber Foto: Muhajir

Ada beberapa kegiatan BPS Kabupaten Aceh Utara yang sedang berlansung di Kec. Sawang.
Diantaranya :

KSA (Kerangka Sampel Areal)

Tujuan KSA dilakukan adalah untuk mengestimasi luas panen padi secara lebih akurat dengan cara mengumpulkan foto tanaman padi pada berbagai fase tanam yaitu mulai fase pengolahan lahan hingga fase pengolahan pasca panen (satu musim tanam).
     KOMSTRAT KAKAO

Tujuan survei adalah untuk mendapatkan data statistik perkebunan rakyat yang akurat mengenai budidaya tanaman kakao. Data statistik yang dihasilkan berupa keterangan umum budidaya, jumlah pohon, produksi dan distribusi produksi, serta keterangan status kebun, harga, pengeluaran, dan pendapatan sesuai periode pengumpulan data. Untuk tujuan itulah BPS melakukan Survei Komoditas Strategis Perkebunan (Komstrat Kakao) Tahun 2018 ini. 
     SUTAS (Surve Pertanian Antar Sensus)

Tujuan SUTAS
SUTAS 2018 bertujuan memperkirakan populasi rumah tangga pertanian menurut subsektor per kabupaten/kota, populasi komoditas, dan produktivitas komoditas dan parameter populasi ternak.
     PODES (Potensi Desa)

Pendataan Podes merupakan pendataan terhadap ketersediaan infrastruktur dan potensi yang dimiliki oleh setiap wilayah administrasi setingkat desa/kelurahan, kecamatan, dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Tuesday, April 3, 2018

Aceh Berbagi : Ku ubah politik menjadi jurus mematikan

Suatu saat pasti aku harus belajar menjadi politikus dan pejabat negara yang harus menghalalkan berbagai cara untuk melupakan mu.
Foto Sumber: Muhajir
Suatu saat pasti aku harus belajar menjadi politikus dan pejabat negara yang harus menghalalkan berbagai cara untuk melupakan mu.

Kulakukan Blackcampaign/kompanye hitam terhadap masalalu ku bersamamu.
Disampul depan kenangan kutaburi racun berita hoax.
Yang berjudul :
Kebaikan mu hanya pencitraan belakang. 
Air mata mu adalah air mata kepalsuan dan janjimu adalah janji palsu. 
Di dalam 5 tahun asmara kamu hanya membuat ku semakin sengsara.


Di tengah halaman media ku tambahkan lagi Anggur memabuk kan sehingga mengarah kesebuah perpecahan.
Kuberi nama anggur mabuk itu manajemen konflik.
Agar kau tak bisa bahagia dimasa yang akan datang.
Agar kau tak bisa tidur nyenyak siang dan malam.
Agar kau selalu ribut dengan kekasih dan kerabat baru mu itu.

Lalu kuberikan sedikit rokok yang kubalut dengan ganja kering  yang bernama Propaganda disertai pengalihan isu:
Supaya kau mengira itu rokok biasa.
Supaya kau selalu bingung dalam menghadapi masalah yang kususun rapi.
Supaya kau terjebak dan menyerah dengan keadaan.
Supaya kau terlihat bodoh dimata rakyat.

Selepas itu semua, dan kuakhiri sudah terhadap masalaluku, kuberikan kau air putih beserta racun didalam nya air tersebut kuberi nama Pembunuhan karakter.
Agar kau menyangka itu hanya air putih biasa.
Agar ke inginan mu untuk terus tebar pesona dimasa yang akan datang tak kulihat lagi.
Agar  kekecewanku terhadapmu tidak terulang lagi untuk yang lain.
Dengan begitu aku bisa melupakan mu selama nya.

Tuesday, January 30, 2018

Irwansyah BEM STIS yang berhasil melakukan seminar online

Minggu 28 januari 2018, Irwansyah Mahasiswa semester 8 Fakultas Hukum ketua BEM  STIS Dayah Amal berhasil membuat diskusi online melalui media Whatsapp, adapun dalam diskusi ini mirip seminar pada biasa nya.


Minggu 28 januari 2018, Irwansyah Mahasiswa semester 8 Fakultas Hukum ketua BEM  STIS Dayah Amal berhasil membuat diskusi online melalui media Whatsapp, adapun dalam diskusi ini mirip seminar pada biasa nya.
Ada pun tema dalam diskusi tersebut, Agama, Politik, Hukum. Irwansyah Mahasiswa kreatif ini mampu menyatukan perawakilan seluruh Indonesia didalam diskusi tersebut.
Adapun pemateri yang terjaring pada malam minggu jam 20:00 sampai jam 23:00 adalah sosok alumni Unimal jurusan Agribisnis fakultas pertanian, Muhajir Sawang.
Dalam diskusi tersebut pemuda-pemudi Indonesia kebanyakan bertanya tentang isu politik dan agama begitu juga dengan hukum yang sering terdengar tumpul kebawah tajam keatas.
Alhamdulillah Diskusi yang pertama x dibuat melalui media online, hampir serupa dengan seminar ini, dibuat oleh Irwansyah berjalan dengan sukses dan seluruh anggota yang mengikuti nya pun merasa puas.
Inti sari dalam diskusi tersebut : Pemuda-pemudi Indonesia masih sangat berharap agar Indonesia ini menjadi sebuah Negara lokomitif kemakmuran masyarakat bukan kemakmuran bagi para elit penguasa.
Dalam diskusi tersebut juga terlihat bahwa para pemuda-pemudi Indonesia masih membawa keinginan dan cita-cita guna memperbaiki citra Bangsa dan Negara ini.

Hal seperti ini menjadi sebuah contoh untuk menggunakan media sosial kearah yang lebih baik untuk berbagi pengetahuan.

Monday, January 1, 2018

ACEH BERBAGI" Muhajir Sawang" Korban politik harus tabah dan sabar.

Untuk mereka pemain politik.
Foto sumber : Muhajir
Untuk mereka pemain politik.

Politik itu ibarat main layang layang begitu sakit nya untuk kalian korban saat ditarik ulur.
Apa lagi bermain politik saat hujan itu kayak angkat jemuran betapa sakit nya saat digantungi.

Kemudian para korban politik itu ibarat nempel jalan rusak supaya politik tak retak ditengah jalan.

Dan saat ini saya melihat perkelahian sesama pemain politik, sesama partai, sesama korban politik, kalian tau kenapa seperti itu?

karena mereka pemain politik percaya kalau politik bisa menyatukan semua nya.

saat pemain politik itu menang dan para korban politik sekarang sering berlari, ya !!! mereka lari dari kenyataan.
saya melihat mereka sering memanjat bukit, ya !!! bukit harapan.

Bahkan tak jarang para korban sering olah raga supaya kuat, ya !!! Ia kuat melihat calon yang diusung tak mempedulikan mereka.
Saat para pemain politik bahagia dan para korban politik hanya bisa melihat.

kalian tau apa yang tersisa !!

yang tersisa hanya penyesalan

Thursday, December 28, 2017

ACEH BERBAGI'' Politik mengeroyok kebenaran telah ada semasa Fir'un berkuasa.

Mengeroyok kebenaran ini bukan cerita baru.
Foto sumber : Muhajir
Mengeroyok kebenaran ini bukan cerita baru.

Di masa Nabi Musa, masa itu Fir’un adalah penguasa yang zalim yang mengeroyok Nabi musa, dan dimasa itu ada seseorang yang bernama Haman ia adalah seorang yang cerdas dan memiliki akal yang sempurna, tapi kecerdasan nya digunakan untuk menjilat kepada Fir’un.

Zaman Nabi Isa pun semasa itu juga dikeroyok oleh kelompok, yahudi dan Romawi, semasa itu juga ada satu pengkhianat dari murid Nabi Isa ia bernama Yudes hanya disogok beberapa keping emas iman nya luntur ia menunjukkan tempat persembunyian Nabi Isa.

Kejadian yang sama dizaman Nabi Muhammad pun juga sama pernah terjadi kepada Nabi Musa dan Nabi Isa,  perang itu disebut dengan perang Handap, semasa itu Nabi Muhammad juga di keroyok oleh Partai/Akzab, ada partai, Yahudi, Bani qainuqah, Bani nazir, Bani quraizah, Nasrani, Majusi dan musrik.

Dan dizaman bar-bar ini juga terjadi hal yang sama dimana seseorang yang mencari keadilan dan menyampaikan kebenaran juga dikeroyok oleh kezaliman.

Mengeroyok kebenaran bukanlah hal yang baru, apalagi politik zaman sekarang yang selalu beriringan dengan kepentingan.

Ini bukan lagi rahasia umum hal ini telah kita ketahui jauh-jauh hari, dizaman seperti ini kepentingan pribadi dan sekolompok terus terjadi dan diutamakan oleh sipelaku politik supaya banyak yang  menjadi pengikut fanatik dan yang menjadi diri sendiri yang mencari keadilan dan kejujuran akan terus terzalimi.

Ini bukan perkara mudah untuk mengubah pola politik yang sudah berakar erat didalam setiap pelaku politik di zaman bar-bar, para pelaku politik perlu mencari pengikut yang mau bekerja untuk kepentingan rakyat bukan hanya meneriakkan kepentingan rakyat.

Lahir sebagai bangsa Aceh bukan sebuah pilihan, lahir sebagai orang eropa bukan sebuah pilihan tetapi memilih antara hak dan batil kita bisa melakukannya karena kita memiliki, mata, telinga, hati, dan fikiran.

Tinggal keputusan kepada sipelaku politik mau atau tidak mau mengubah sistem sekolompok menjadi sistem bermasyarakat.

Sebagian sumber hasil dari kutipan pidato,  UAS.

Thursday, December 21, 2017

Aceh Berbagi'' Muhajir Sawang' Politik itu jalan, sedangkan kita ber agama


Tidak dapat kita pungkiri diera zaman elit ini polotik bagaikan lauk saat menyantap nasi, bahkan masyarakat di perdesaanpun yang dulu begitu lugu tidak begitu mau tau apa itu politik dan bahkan memandang politik ala gadis desa yang sangat lugu kini sudah bersalto menuju era politik zaman elit.
Foto sumber : Muhajir

Tidak dapat kita pungkiri diera zaman elit ini polotik bagaikan lauk saat menyantap nasi, bahkan masyarakat di perdesaanpun yang dulu begitu lugu tidak begitu mau tau apa itu politik dan bahkan memandang politik ala gadis desa yang sangat lugu kini sudah bersalto menuju era politik zaman elit seperti ini.

Hal yang mengecewakan pun kerap menghampiri para pemain politik diera zaman elit, kitapun melihat timbulnya kekecewaan hadir dari sistem yang tidak adil, kemudian hadirlah kecemburuan sosial yang semikin menjadi jadi, lantas hal seperti ini terus berlanjut dan tidak ada perubahan yang signifikan untuk kesejahteraan masyarakat banyak.

Jika hal seperti ini terus berlanjut apakah selayak nya kita menyalahkan politik ?

Tentu saja tidak, harus nya kita memahami dan mencari kader yang baik yang dapat kita percayai bukan hanya silau dengan kemewahan, tapi hendak nya kita selaku rakyat melihat lebih teliti dan hati-hati, apa layak jika ia dijadikan pemimpin, jika memang layak maka selayak nyapun rakyat mendukung dan mensprot nya dengan hati,bukan mengahrap materi.

Kemudian kita belarih kekehidupan kita selaku masyarakat Aceh, kita tau manyoritas masyarakat Aceh beragama Islam, tentu saja kita tidak terlepas dari ajaran-ajaran agama yang telah melekat dalam jiwa kita.

Dari sisi ini kitapun harus melihat bahwa politik adalah jalan menuju tampuk kepemimpinan sedangkan kita beragama islam tentu dari sisi ini saat memutuskan suatu pekara hendak nya kita memakai hati bukan mementingkan pribadi dan sekelompok teman sejawat.

Saya masih mengingat ada sebuah teori dalam ilmu ekonomi, Ekonomi itu apa? Ekonomi modal sedikit keuntungan banyak dan agama tentu hal seperti ini dilarang dan kita selaku manusia lebih menggunakan otak dan hati untuk berfikir.

Dari satu sisi ekonomi modal sedikit keuntungan banyak ini adalah sesuatu ilmu yang sangat bagus tapi dalam menerapkannya kita juga harus menggunakan hati dan otak kita karena kita memiliki agama, begitu juga dengan politik untuk menuju tampuk kekuasaan bagi saya politik itu jalan sedangkan kita memiliki Agama.

Jangan sampai Agama mengikuti politik tapi politik yang harus mengikuti agama. 

Thursday, December 14, 2017

Aceh Berbagi : Muhajir Sawang'' Aceh akan kembali kemasa kerajaan ini penjelasan nya.

Mari kita mengulang sedikit ingatan kedalam sebuah sejarah Kaum Tiga Ratus sebagai biji drang,yang dimaksud dengan biji drang adalah sebangsa kacang tanah yang tumbuh setelah musin memotong padi, segala jerami mati lalu tumbuh sendiri pohon drang dengan subur. Kaum Ja Sandang sebagai jeura haleuba (biji kelabat) warna kuning, biji kelabat digunakan untuk campuran menghilangkan bau hanyir. Biji tersebut lebih besar sedikit dari biji drang.
Foto Sumber : Muhajir
Mari kita mengulang sedikit ingatan kedalam sebuah sejarah Kaum Tiga Ratus sebagai biji drang, yang dimaksud dengan biji drang adalah sebangsa kacang tanah yang tumbuh setelah musin memotong padi, segala jerami mati lalu tumbuh sendiri pohon drang dengan subur. 

Kaum Ja Sandang sebagai jeura haleuba (biji kelabat) warna kuning, biji kelabat digunakan untuk campuran menghilangkan bau hanyir. Biji tersebut lebih besar sedikit dari biji drang.

Kaum Ja Batee atau disebut Tok Batee bacut-bacut, yakni hanya sedikit. Kaum Imum Peuet, mereka yang mengguncang dunia maksudnya berpengaruh besar terhadap berperanan yang penting dalam pemerintahan, ini adalah sebuah cerita atau pusaka yang diturunkan untuk kita masyarakat Aceh.

Di era zaman yang semakin maju ini kebanyakan orang menganggap ini adalah era zaman Now, bagi saya ini adalah era zaman Bar-bar dimana kita telah terlalu jauh meninggalkan dan menggadaikan pusaka peninggalan indatu kita sendiri pusaka tersebut adalah ke jujuran, kesetian, ke adilan, kemakmuran dan ke sejahteraan.

Pusaka yang ditinggalkan oleh indatu kita semasa dahulu atau sang perubahan tidak ada yang disebutkan dalam sejarah memainkan masyarakat atau membuat masyarakat sengsara atau mengambil manfaat dari masyarakat, dan menjanjikan hal yang tidak bisa dibuktikan kepada rakyat guna untuk memuluskan jalan menuju jabatan teratas.

Dalam hal seperti ini bukanlah hal yang mencerminkan bangsa Aceh, kebanyakan dari mereka yang hendak berlenggak menuju tampuk kekuasaan membuat janji kepada rakyat tapi belum tentu bisa menepati nya, ada juga yang membuat janji tapi bisa di tepapi salah satu nya janji ingin mengembalikan Aceh kemasa ke Rajaan terdahulu, adapun janji yang dilontarkan itu mampu mereka buktikan dan ini penjelasan singkat terhadap janji mengembalikan Aceh kemasa ke Rajaan :
  1. Listrik yang sering padam, dimasa kerajaan dulu listrik tidak ada.
  2. Jalan yang semakin rusak parah, semasa kerjaan dulu jalan tidak ada yang ber aspal.
  3. Pupuk yang sulit dijangkau oleh petani, semasa kerajaan dulu saat kesawah atau padi ladang tidak menggunakan pupuk. 
  4. Pestisida yang mahal, saat masa kerajaan pestisida tidak ada.
  5. Gas elpiji 3 kg yang semakin langka sehingga rakyat terpaksa memasak dengan kayu seperti semasa kerajaan terdahulu.
  6. Harga BBM yang semakin tinggi sehingga rakyat terpaksa jalan kaki seperti masa kerajaan terdahulu.
  7. Biayaya pembayaran listrik yang semakin tinggi sehingga rakyat terpaksa menghidupkan lilin suloh seperti masa kerajaan terdahulu.
Ini hanya beberapa alasan yang terlintas dalam benak saya. Semoga saja kita mengambil kembali pusaka peninggalan Indatu kita yang sudah tergadaikan, karena Bangsa Aceh adalah Bangsa perubahan sebagai contoh yang baik untuk bangsa yang lain, dan semoga saja Aceh kedepan menjadi Aceh yang bermartabat dan mulia.